Jumat, 03 Juli 2009

Anak negeri berbicara tentang liberal

Liberalisme di Indonesia Tidak Dapat di Bumi Hanguskan
oleh Setiya Gunawan
Menurut sejarah, pada kurun waktu 1870-1900 di Indonesia berlaku liberalisasi ekonomi yang ditandai dengan munculnya Undang-Undang Gula (Suiker Wet) dan Undang-Undang Agraria serta politik pintu terbuka (Swastanisasi) yang memberikan kesempatan kepada pengusaha asing menanamkan modalnya di Indonesia.
Mengenalkah Anda?
Program Benteng adalah salah satu program ekonomi, di bawah kabonet Ali Sastroamidjojo. Program Benteng berupaya untuk mendorong berkembangnya pengusaha kecil. Program Ekonomi Gerakan Benteng dicanangkan pada masa Kabinet Natsir yang berisi; Mewajibkan perusahaan-perusahaan asing untuk melatih tenaga-tenaga Indonesia, mendirikan perusahaan Negara, memberikan kredit bagi pengusaha nasional, memberikan perlindungan hukum yang jelas.
Masih ingatkah?
Krisis Moneter dan krisis ekonomi uang terjadi antara tahun 1997-1999 yang membawa dampak/akibat dari hilangnya kepercayaan masyarakat internasional. Yaitu dengan semakin terpuruk dan terisolasi dalam berbagai forum dan kerja sama Internasional. Ini artinya Indonesia masih membutuhkan negara-negara asing, belum bisa berdikari. Aspek ini dapat dilihat dari segi aspek pendidikan, ekonomi, pertahanan dan keamanan. Aspek Pendidikan yaitu; tingginya minat warga Indonesia yang ingin melanjutkan studinya di luar negeri; Amerika, Australia, Malaysia, Singapore, dll. Aspek Ekonomi yaitu; adanya kegiatan Ekspor-Impor antar negara. Aspek pertahanan-keamanan yaitu sistem persenjataan yang masih bergantung pada luar negeri (Rusia). dan lain sebagainya. Jika nanti suatu kepala negara (presiden) memutus hubungan kerja sama dengan luar negeri, maka akan terjadi simbiosis parasitisme, yang satu ungtung- yang lainnya dirugikan. Kita seharusnya sadar bahwa kita hidup dalam bermasyarakat. Kita sebenarnya lebih menonjolkan keegosisan kita. Kita merasa mempunyai, sedangkan lawan di hadapan kita dianggap rendah.
Apa itu Globalisasi?
Menurut Thomas L. Friedman, globalisasi mempunyai dimensi ideology, yaitu kapitalsme dan dimensi ekonomi (pasar bebas). Selain itu, juga memiliki dimensi teknologi, yaitu teknologi informasi yang telah menyatukan dunia. Globalisasi merupakan fenomena pasca-Perang Dingin yang tidak dapat dihindari.
Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave yang menyatakan gelombang perubahan peradaban umat manusia ampai saat ini telah mengalami tiga gelombang, yaitu :
gelombang I peradaban teknologi pertanian berlangsung mulai 800 SM-1500SM;
gelombang II peradaban teknologi industri berlangsung mulai 1500SM-1970M;
gelombang III peradaban informasi berlangsung mulai 1970-sekarang.
Indonesia sekarang harus beradaptasi dengan fenomena Globalisasi. Globalisasi identik dengan cepat, kreatif, bermutu, dan menghasilkan. Penanganan kemiskinan oleh pemerintah Indonesia harus segera dilaksanakan. Pemilihan Presiden Satu kali putaran di Indonesia merupakan indikator Persatuan Indonesia yang kuat. sedangkan pemilihan presiden 2 kali putaran menunjukkan bahwa bangsa Indonesia sedang bingung, bangsa indonesia menjadi terpecah, dan tidak bersatu.